Home / Uncategorized / Labuan Cermin-berlomba dengan waktu

Labuan Cermin-berlomba dengan waktu

Sebagai daerah yang harus ditempuh selama 5 jam perjalanan darat dari Ibu Kota Kabupaten Berau, Tanjung Redep, Labuan Cermin di Kecamatan Biduk-biduk merupakan salah satu pilihan tempat wisata yang mempesona. Sebuah danau yang terletak berdekatan dengan pantai sehingga memiliki komposisi air yang unik membuat tempat ini banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Pemandangan sekitar danau

Pemandangan sekitar danau

Danau ini memiliki keunikan istimewa. Air pada bagian atas merupakan air tawar yang berasal dari sumber mata air di pegunungan karst sedangkan pada saat pasang, air laut memasuki danau ini sehingga membuat air bagian bawah danau ini asin. Hal ini dapat diihat dari keanekaragaman spesies ikan yang tampak di danau ini. Beberapa kali tampak ikan air laut seperti kakap dan ikan lainnya berenang di dasar danau ini secara bergerombol. Danau ini juga dikelilingi oleh hutan dimana masih banyak terdapat beruang, bekantan, beruk, kera, tupai, babi hutan, penyu, elang dan berbagai satwa liar yang mulai terancam punah di daerah lain.

Jerniihnya air danau Labuan Cermin

Jernihnya air danau

Saat ini danau ini dikelola oleh sebuah organisasi kampung Biduk-biduk. Menurut pengurus organisasi kampung tersebut, pengunjung yang datang dalam satu bulan dapat mencapai 500 pengunjung. Pengunjung dapat menyewa kapal dari dermaga Labuan Cermin untuk bisa menikmati keindahan danau. Berita mengenai keindahan dan keunikan danau ini semakin lama semakin menyebar luas. Wisatawan yang mengunjungi mulai beranekaragam. Wisatawan mancanegara mulai berdatangan walau masih dalam grup kecil. Dapat diprediksikan bahwa beberapa tahun yang akan datang tempat ini akan ramai didatangi pengunjung dan akan menarik para investor dari luar untuk membuka usaha di daerah ini.

Bertambahnya wisatawan yang datang ke daerah ini akan membuat kehidupan liar terganggu perlahan-lahan. Termasuk kehidupan bekantan, satwa yang menjadi ikon khas Kalimantan juga terancam terganggu. Oleh sebab itu Yayasan PEKA Indonesia dalam Program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan bekerja bersama masyarakat untuk mempersiapkan masyarakat lokal sehingga mampu menjadi tuan rumah dalam daerahnya sendiri sekaligus melindungi kehidupan liar di tempat ini. Ide yang dibawa dalam program ini adalah “Mengembangkan model kelola kawasan hutan lestari berbasis masyarakat di tiga desa pantai (Desa Biduk-biduk, Desa Giring-Giring dan Teluk Sulaiman), Kabupaten Berau, Kalimantan Timur”. Diharapkan PEKA dapat membantu memperkuat masyarakat lokal sebelum investor dan pelaku bisnis dari luar memulai usaha mereka di tempat ini (Dk).

 

Check Also

Kembali Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *