Home / Aktivitas / Biopori: Teknologi untuk Konservasi Air

Biopori: Teknologi untuk Konservasi Air

Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah teknologi yang ditemukan ditemukan sejak tahun 1976 oleh Dr. Kamir R. Brata, MSc. Beliau adalah seorang peneliti dan dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB. Saat ini LRB telah dikenal oleh masyarakat luas dan banyak dicanangkan dalam program pelestarian lingkungan hidup baik pada tingkat Kabupaten, Kota maupun provinsi.

Membuat Lubang Biopori dengan Bor

Bor untuk membuat Lubang Resapan biopori

LRB merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah banjir, masalah sampah dan kekeringan. LRB merupakan lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 dan kedalaman sekitar 100 cm. Lubang tersebut diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. Biopori merupakan lubang-lubang (pori-pori) di dalam tanah yang terbentuk akibat adanya aktifitas organisme didalamnya. Aktifitas Organisme yang muncul akibat ketersediaan sampah organik di dalam LRB akan meningkatkan pori pori tanah. Pori pori tanah inilah yang akan memperluas bidang resapan air sehingga air di permukaan tanah bisa langsung diserap ke dalam tanah.

Contoh penutup lubang biopori

Contoh Penutup Lubang Biopori

Cara membuat LRB ini cukup mudah,
1. Pilih Lokasi yang tepat untuk membuat LRB. Yaitu pada daerah dengan air hujan yang mengalir. Misalnya di sekeliling pohon, pada batas taman, pada dasar saluran air.
2. Buat alur aliran air terlebih dahulu.
3. Siram tanah yang akan dilubangi supaya mudah dilubangi.
4. Buat lubang dengan menggunakan Bor Biopori dengan cara meletakkan mata bor tegak lurus dengan tanah kemudian tekan dan putar bor ke arah kanan.
5. Tarik mata bor setiap kedalaman kurang lebih 15 cm untuk dibersihkan. Sehingga tanah tidak menutup mata bor.
6. Lanjutkan sampai lubang mencapai kedalaman 100 cm. Apabila tanah berbatu, maka pengeboran dapat dihentikan sebatas kedalaman yang bisa dicapai saja, walaupun hanya 50 cm.
7. Perkuat mulut lubang dengan adukan semen, pipa maupun kaleng.
8. Isi lubang dengan sampah organik.
9. Tutup lubang dengan kawat atau tutup berventilasi apabila di daerah yang dialui orang.
10. Pelihara LRB dengan mengisinya dengan sampah organik setidaknya 5 hari sekali.
11. Setelah 3 bulan, sampah di dalam LRB dapat diambil sebagai kompos.

Sumber: www.biopori.com

Check Also

Buletin Biduk Putih #1

Berikut adalah Buletin kegiatan program yang dilaksanakan oleh konsorsium Yayasan PEKA Indonesia, Yayasan Lamin Segawi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *