Home / Aktivitas / Pemanfaatan SDA dan Energi Terbarukan di Kawasan Karst Berau

Pemanfaatan SDA dan Energi Terbarukan di Kawasan Karst Berau

Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, memiliki sumber daya alam (SDA) yang sangat kaya. Sayangnya, potensi SDA itu belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat karena ketidaktahuan mereka akan cara pemanfataannya, juga oleh keterbatasan energi listrik yang ada. Yayasan Peduli Konservasi Alam (PEKA) Indonesia bersama Yayasan Penyu Berau dan Yayasan Lamin Segawi kemudian berinisiatif melaksanakan program “Pemanfaatan SDA dan Energi Terbarukan Secara Berkelanjutan bagi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat 2 Kampung di Kawasan Bentang Alam Karst di Kecamatan Batu Putih dan Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau.” Program ini sudah dimulai sejak Juli 2016 dan akan selesai pada Desember 2017.

Dengan total luas perairan 12,8 hektar dan didukung oleh 33 pulau yang indah dan menawan, Berau bagaikan surga yang jatuh ke bumi. Belum lagi dengan bentang alam karstnya. Dari 3,5 juta hektar bentang alam karst di Kaltim yang tersebar di 10 kabupaten dan kota, 2,1 hektarnya ada di Berau.

Biduk-Biduk dan Batu Putih adalah dua kecamatan di Berau yang berada pada kawasan bentang alam karst di Kaltim. Kedua kecamatan tersebut memiliki kesamaan bentang alam berupa perbukitan karst dataran rendah yang langsung berbatasan dengan bibir pantai. Hal itu membuat Biduk-Biduk dan Batu Putih kaya akan ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Di dua kecamatan tersebut, pohon kelapa tumbuh subur. Perkebunan kelapa dapat dilihat di sepanjang pantai dan hutan tropis. Akan tetapi, di Batu Putih, perkebunan kelapa mulai berkurang karena adanya pembukaan lahan secara besar-besaran untuk perkebunan sawit yang dilakukan oleh perusahaan.

Batu Putih memiliki potensi padi ladang. Meskipun produksinya masih sangat bergantung pada musim, karena tipe penanaman padi di sana berupa padi tadah hujan. Selain itu, Batu Putih memiliki kawasan mangrove yang cukup luas dengan sumber daya laut yang melimpah seperti ikan, udang dan terumbu karang. Masyarakat memanfaatkan sumber daya laut itu untuk membuat kerupuk ikan dan terasi udang. Namun, jumlahnya masih sedikit dan pasarnya terbatas.

Mayoritas suku di Biduk-Biduk adalah Bugis, Bajo, dan Mandar. Hampir semua masyarakat beragama Islam. Berbeda dengan Batu Putih yang didominasi oleh suku Bajau, Jawa, Timor, Banjar, Dayak/Tidung, Kaili, Makassar dan Banua, mereka menganut agama yang beragam. Suku Berau asli dan Jawa mayoritas beragama Islam, Dayak Basap beragama kristen Katolik, dan beberapa suku lainnya ada yang beragama Kristen Protestan.

Keanekaragaman suku, budaya, dan agama membuat perekonomian dan mata pencaharian masyarakat menjadi berbeda-beda. Di Biduk-Biduk, mayoritas masyarakat adalah nelayan, sedangkan di Batu Putih adalah petani dan pedagang. Namun, masyarakat Batu Putih masih mengandalkan penghasilan bulanan dan musiman karena bergantung pada upah bulanan dari perusahaan dan masa panen.

Tentu saja perputaran uang di Biduk-Biduk relatif lebih cepat karena bergantung pada penghasilan harian dari aktivitas nelayan. Transaksi jual beli ikan segar hasil tangkapan nelayan terjadi setiap hari dalam jumlah cukup besar. Sayangnya, sebagian dari masyarakat Biduk-Biduk adalah buruh harian. Pembagian hasilnya tidak merata, yaitu 30% untuk pemilik kapal, 30% untuk logistik, dan 40% untuk buruh kapal. Kondisi ini mengakibatkan penghasilan buruh kapal cukup sedikit.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Yayasan PEKA Indonesia berpendapat perlu adanya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Cara alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong pemanfaatan SDA dan perkebunan. Bisa dengan meningkatkan produktivitas dan pemanfaatan sumber daya laut, yaitu udang dan ikan di Batu Putih dan memanfaatkan perkebunan kelapa di Biduk-Biduk.

Agar berjalan dengan baik, suplai energi listrik yang lebih banyak sangat dibutuhkan, mengingat suplai energi listrik di kedua kecamatan tersebut sangat terbatas. Suplai listrik dari PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Di Biduk-Biduk, misalnya, suplai listrik hanya dilakukan pada pukul 18.00–06.00 WITA. Sementara di Batu Putih hanya pukul 18.00–00.00 WITA. Itu pun hanya mencakup beberapa kampung saja.

Kurangnya suplai listrik membatasi produktivitas masyarakat dan menghambat berkembangnya perekonomian. Sarana dan prasarana umum seperti sekolah, ibadah, kesehatan, dan kantor pemerintahan masih bergantung pada suplai listrik dan mesin generator set (genset) yang menggunakan bahan bakar solar. Padahal harga solar sewaktu-waktu bisa melonjak drastis dan pasokannya berkurang.

Dalam melaksanakan programnya, Yayasan PEKA Indonesia bersama Yayasan Penyu Berau dan Yayasan Lamin Segawi memanfaatkan SDA dan energi terbarukan  Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Dibangunnya PLTS di kedua kecamatan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat dalam mengonsumsi bahan bakar fosil, sehingga bisa mengurangi emisi karbon. Selain itu, bisa meningkatkan pengelolaan SDA yang berkelanjutan dan produktivitas serta kesejahteraan masyarakat.

Program ini dinilai berdampak baik sehingga banyak pihak yang mendukung. Seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) KEHATI dan Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia. KEHATI membantu dalam penyusunan, melakukan kajian, dan pendampingan selama program berlangsung.

Pemerintah setempat bahkan memberikan izin pembangunan PLTS di Kampung Sumber Agung, Batu Putih dan Kampung Giring-Giring, Biduk-Biduk, dengan No. 130/605/Pem.A/XII/2016 tertanggal 28 Desember 2016 yang ditandatangani langsung oleh Bupati Berau.

Sebelum pelaksanaan program, PEKA melakukan pelatihan dan sosialisasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah.  Pelatihan pertama yang ditujukan untuk staf keuangan dan administrasi kecamatan yang dilaksanakan pada 15–16 September 2016 lalu di Hotel Mitra Jl. Gajah Mada Tanjung Redeb Kabupaten Berau.

Selanjutnya, koordinasi dan sosialisasi program kepada pemerintah setempat, yang dilakukan pada 13-19 September 2016. PEKA Indonesia bertemu dengan pengambil kebijakan di antaranya Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, Kepala Bappeda Berau, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan serta Bapak Bupati Kabupaten Berau (Red-BP).

Check Also

Pengumuman Pemenang Lelang Umum Pembangunan Rumah Produksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *