Home / Uncategorized / Pengembangan Potensi Komoditas Lokal

Pengembangan Potensi Komoditas Lokal

PEKA Indonesia akan berusaha mengembangkan usaha lokal di, salah satunya, Kampung Batu Putih dan Sumber Agung, Kecamatan Batu Putih. Keduanya memiliki kawasan mangrove yang cukup luas.

Pengembangan Produk di Kecamatan Batu Putih

Udang rebon di Kampung Butih akan diolah menjadi terasi khas tanpa pewarna dan pengawet, sehingga bisa menjadi salah satu komoditi unggulan di Kecamatan Batu Putih. Begitu juga dengan rumput laut di Kampung Sumber Agung. Komoditi ini dicanangkan akan menjadi salah satu hasil andalan di Kecamatan Batu Putih sebagai salah satu sentra penghasil rumput laut di Indonesia.

Pengolahan terasi di Kampung Batu Putih, sampai saat ini masih dilakukan dengan cara tradisional, sehingga kualitasnya belum baik dan kemasannya kurang mampu bersaing di pasaran.

Untuk memperbaiki hasil produksi terasi di Kampung Batu Putih dibutuhkan beberapa mesih pengolahan, antara lain mesin pengering, penggiling bahan terasi, mixer bahan terasi, dan pencetak terasi.

Di Kampung Sumber Agung terdapat satu kelompok nelayan dengan 24 anggota. Sejak 2014 mereka telah melakukan budi daya rumput laut dan memanen hasilnya sebanyak 1 ton per bulan.

Masyarakat Kampung Sumber Agung belum mampu melakukan pengolahan rumput laut menjadi tepung. Tidak adanya sumber energi listrik untuk menggerakan mesin menjadi kendala. Sehingga rumput laut hasil panen hanya dikeringkan dan dijual ke pengepul rumput laut yang secara rutin datang ke kampung ini.

Mesin produksi yang dibutuhkan untuk mengelola rumput laut adalah mesin pencuci, perajang dan penepung rumput laut.

Pengembangan Produk di Kecamatan Biduk-Biduk

Kampung Biduk-Biduk, Giring-Giring, dan Teluk Sulaiman memiliki potensi kelapa yang cukup melimpah. Setiap bulannya mampu menghasilkan kurang lebih 24.000 butir buah kelapa. Kelapa dikupas sabut kelapanya, setelah itu dijual kepada pengepul kelapa tingkat kecamatan dan dijual ke pembeli tingkat kabupaten. Harga jual per butir kelapa fluktuatif dikisaran harga Rp3.000 hingga Rp4.000, tergantung cuaca dan ketersediaan stok kelapa.

Berdasarkan hasil penelitian PEKA Indonesia, program peningkatan kesejahteraan warga akan fokus pada Kampung Giring-Giring dan Teluk Sulaiman.

Di kedua kampung tersebut akan dilakukan pengolahan produk dengan bahan baku sabut dan tempurung kelapa. Selama ini sabut dan tempurung kelapa belum maksimal dimanfaatkan. Sabut dan tempurung hanya dibuang dan dijadikan bahan bakar untuk keperluan memasak.

Padahal produk olahan sabut kelapa memiliki nilai ekonomis tinggi untuk dijadikan cocofiber dan cocopeat. Cocofiber adalah olahan dari sabut kelapa untuk membuat produk matras, sikat, tali dan filter. Harga cocofiber per kilogram berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000. Cocopeat adalah media tanam yang dibuat dari sisi pengolahan sabut kelapa, yang memiliki sifat mudah menyerap dan menyimpan air. Kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur, dapat mengurangi penyakit dalam tanah. Harga cocopeat serbuk berkisar antara Rp800 hingga Rp1.500 per kilogram, sedangkan cocopeat padat harganya berkisar Rp5.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

Pengolahan dua jenis produk tersebut membutuhkan mesin pengupas, pengurai, penghancur, pengayak, dan press sabut kelapa.

Potensi limbah kelapa berikutnya adalah tempurung kelapa  yang bisa dibuat briket. Produk ini sangat diminati masyarakat modern dan negara Timur Tengah. Daya bakar briket berdurasi lebih lama dan tidak menimbulkan bau ataupun asap yang berlebihan sehingga ramah lingkungan.

Briket diolah dengan cara menghaluskan arang tempurung kelapa kemudian dipres dan dicetak. Kisaran harga briket Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

Pengolahan briket arang tempurung kelapa ini perlu mesin pengupas batok kelapa, penepung arang, mixer briket arang dan pencetak briket arang (Red-BP).

Check Also

Kembali Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *