Home / Artikel / Kecoak Raksasa

Kecoak Raksasa

Kecoak raksasa bisa disebut pula kecoak hutan sebab kecoak jenis ini biasa hidup di hutan namun ada pula beberapa jenis yang hidup di sekitar pekarangan tempat tinggal manusia. Sesuai dengan julukannya kecoak raksasa kebanyakan jenisnya memiliki ukuran tubuh yang besar denga rentang sekitar 7 hingga 10cm, memiliki bentuk tubuh yang oval gempal berwarna hitam hingga kecokelatan dan memiliki mulut mengigit mengunyah serta sungut (antena) berukuran pendek. Kecoak raksasa tidak seperti kecoak pada biasanya yang hidup berkeliaran di sekitar tempat tinggal manusia dan bau, sebaliknya kecoak ini hidup dan tinggal di dalam pohon yang telah lapuk, seresahan dan bebatuan serta memakan tanaman yang telah membusuk, cendawan atau kotoran dan juga tidak bau. Kebanyakan kecoak raksasa betina tidak memiliki sepasang sayap, sedangkan yang jantannya memiliki sepasang sayap yang cukup tebal namun ada pula beberapa jenis lainnya yang tidak memiliki sepasang sayap. Kecoak raksasa termasuk kedalam kelompok serangga yang menguntungkan bagi lingkungan alam sekitar, sebab mereka berperan sebagai pengurai (decomposer) pada makhluk hidup yang telah mati dan membusuk. Beberapa jenis kecoak raksasa memiliki keunikan yang menakjubkan, diantaranya ada yang bisa menghasilkan suara desisan bagaikan suara desisan ular sedangankan jenis lainnya memiliki kesetiaan dalam berpasangan.

Sebagaimana yang telah disebutkan tadi, bahwa beberapa jenis kecoak raksasa memiliki keunikan diantaranya ada yang menghasilkan suara mendesis. Salah satu jenis kecoak raksasa yang menghasilkan suara mendesis adalah kecoak raksasa madagaskar “Gromphadorhina portentosa” yang berasal dari pulau Madagaskar Afrika. Kecoak madagaskar ini baik betina dan jantannya sama-sama tidak memiliki sepasang sayap dan memiliki bentuk tubuh oval serta berwarna hitam kecokelatan, jantan memiliki tubuh lebih besar dibandingkan betinanya serta memiliki tanduk kecil pada dada depan (pronotum). Suara desisan kecoak madagaskar ini unik yakni menyerupai desisan ular, dimana desisan ini dihasilkan dengan cara paksa mengeluarkan udara melalui lubang bukaan pernapasan (spirakel) pada setiap segmen tubuh mereka. Cara menghasilkan suara desisan pada kecoak madagaskar ini sangatlah tidak lazim, karena sebagian besar serangga yang mengeluarkan atau menghasilkan suara melakukannya dengan menggesekan berbagai bagian tubuh mereka (stridulasi) salah satunya seperti menggesekan antara kedua belah pangkal sayap depan (tegmen) pada jangkrik jantan.

Desisan yang dihasilkan kecoa madagaskar terbagi menjadi tiga tipe sesuai dengan fungsinya diantaranya ada desisan gangguan, desisan yang menarik perhatian betinanya, dan desisan perkelahian yang agresif. Pertama desisan gangguan, desisan ini digunakan sebagai perlindungan diri ketika kecoak madagaskar didekati oleh pemangsa (predator) atau manusia sehingga desisan itu akan memberikan sensasi mengejutkan ketika hendak disentuh. Semua kecoak madagaskar dari siklus ganti kulit (instar) keempat dan yang lebih tua mampu menghasilkan suara desisan gangguan ini. Kedua desisan yang menarik perhatian betina, desisan ini hanya dimiliki kecoak madagaskar jantan yang berfungsi untuk menarik perhatian sang betina agar mau melakukan perkawinan dan desisan ini akan selalu berbunyi selama perkawinan itu berlangsung. Ketiga desisan perkelahian, desisan ini digunakan ketika kecoak madagaskar jantan ditantang oleh kecoak jantan lainnya dan perilaku ini sebagai upaya untuk menjaga wilayah tempat tinggalnya (teritorial), selama perkelahian berlangsung kecoak madagaskar jantan akan saling mendorong menggunakan tanduk atau perutnya dan desisan yang lebih lama serta keras dalam perkelahian umumnya sebagai pemenangnya.

Alhasil karena bunyi desisan yang dihasilkan kecoa madagaskar ini sangat unik, telah membuat beberapa manusia tertarik untuk memeliharanya sebagai hewan peliharaan yang unik dan eksotik. Mereka biasanya menaruh kecoak ini di dalam wadah atau aquarium yang disertai ekosistem buatan agar kecoak tersebut merasa nyaman. Selain itu di beberapa negara seperti Mexico, kecoak madagaskar dijadikan sebagai salah satu sumber pangan alternatif yang memiliki kandungan protein serta menambah keunikan pada sajian kulinernya. Mereka membuatnya menjadi berbagai olahan makanan seperti cokelat dengan taburan “topping” kecoak madagaskar yang dijual di pasar. Karena kecoak madagaskar ini dapat dijadikan peliharaan dan juga bahan makanan oleh sebagian manusia maka kecoak ini pun telah dibudidayakan dan dapat dibeli di toko hewan peliharaan atau kepada peternak kecoak madagaskar secara langsung.

Selanjutnya, keunikan yang tak kalah menarik pada kecoak raksasa adalah kesetiaan sejati dalam berpasangan. Ya, Keunikan ini terjadi pada beberapa jenis kecoak raksasa salah satunya seperti pada jenis kecoak raksasa taiwan “Salganea taiwanensis”. Kecoak raksasa jenis ini diketahuimemiliki kesetiaan yang abadi dalam berpasangan, dimana setelah masa perkawinannya selesai mereka akan saling memakan sayap pasangannya satu sama lain bagaikan makan dan dimakan secara bergiliran selama berhari-hari hingga tidak tersisa sedikitpun. Fakta keunikan saling memakan sayap tersebut sebagaimana yang telah dilansir “Science Alert” bahwa sekelompok peneliti telah mengumpulkan “specimen” hidup kecoak raksasa liar di hutan Jepang yang bernama ilmiah “Salganea taiwanensis” ini. Para peneliti itu telah merekam video pada 24 pasang kecoak raksasa taiwan ini selama tiga hari untuk mencari tahu apa yang dilakukan kecoak-kecoak tersebut dan menyelidiki alasan mengapa mereka berperilaku demikian. Pada sebagian besar waktu setelah perkawinan usai, kecoak raksasa taiwan akan saling memakan sayap pasangannya dan pasangan yang dimakan sayapnya dalam rekaman video itu tetap tidak bergerak sama sekali. Kemudian lebih dari sepertiga waktu barulah kecoak yang dimakan sayapnya itu dengan keras mengguncang tubuhnya ke kiri dan ke kanan sebagai respon rasa sakit hingga terkadang membuat pasangannya berhenti mengunyahnya. Pesta saling makan memakan ini berlanjut sampai keempat pasang sayap mereka benar-benar hilang habis dilahap oleh pasangannya.

Para peneliti menjelaskan, bahwa perilaku saling memakan sayap pasangannya pada jenis kecoak raksasa taiwan ini adalah bagian dalam praktik “kanibalisme” timbal balik untuk meningkatkan kelangsungan hidup pasangan mereka sehingga mereka dapat membesarkan anak-anaknya secara bersama selama bertahun-tahun serta menghabiskan masa hidupnya tanpa harus khawatir pada resiko pengkhianatan oleh pasangannya. Setelah kecoak raksasa taiwan betina bertelur dan kemudian telur itu menetas, maka sepasang kecoa ini akan memberikan makan serta melindungi anak-anaknya (larva) dalam kenyamanan pada lubang di dalam sebuah batang kayu yang telah lapuk serta membesarkannya bersama hingga berbagi beban pengasuhan. Perilaku kecoak taiwan ini menunjukan bahwa mereka termasuk hewan yang sejati dalam berpasangan atau hanya berpasangan dengan satu pasangan saja sepanjang hidupnya (monogami). Sungguh, kesetiaan yang dimiliki kecoak raksasa taiwan ini telah mengajarkan kepada kita bagaimana caranya agar dapat menjaga sebuah komitmen dalam kesetiaan berpasangan tanpa adanya pengkhianatan diantara dua makhluk yang saling mencintai serta memiliki rasa tanggung jawab dan saling berbagi dalam menjalani kehidupan ini. (Ut)

Daftar Pustaka

 

 

Check Also

Tonggeret / Cicadas

“ Penyayi bising nan romantis yang berumur panjang Tonggeret biasa disebut pula cicadas adalah serangga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *