Home / Uncategorized / KAKI SERIBU/MILLIPEDE : ARTHROPODA BERKAKI BANYAK

KAKI SERIBU/MILLIPEDE : ARTHROPODA BERKAKI BANYAK

Kaki seribu, bagi sebagian manusia hewan ini dianggap sebagai hewan yang menjijikan dan menakutkan, karena bentuk tubuhnya yang silindris memanjang dan berwarna hitam disertai kaki-kaki yang berjumlah banyak akan membuat yang melihatnya nampak aneh. Kaki seribu termasuk kedalam kelompok filum arthropoda (arthros = beruas-ruas, podos = kaki), subfilum myriapoda (myria = banyak, podos = kaki), dari kelas diplododa (diplos = dua pasang, podos = kaki). Kaki seribu hidup di tempat-tempat yang lembab seperti di seresahan daun, kayu mati, di bawah tumpukan batu, tanah, dan gua serta penyebarannya hampir terdapat di seluruh benua terkecuali benua antartika. Kaki seribu mempunyai sejarah kehidupan yang panjang di planet bumi ini, mereka telah ada dan menghuni permukaan bumi ini sekitar 400 juta tahun yang lalu, maka pantas bila kaki seribu disebut sagai salah satu hewan purba yang masih ada dan hidup di zaman ini. Dalam bahasa inggris kaki seribu disebut dengan “Millipede.” Sedangkan di Indonesia kaki seribu memiliki beberapa nama sebutan daerah, diantaranya Titinggi (Jawa Barat), Luwe (Jakarta), Luwing (Jawa Tengah), Kalomeme (Sulawesi Selatan) dan Kaki Seribu (Papua). Bahkan, suku Arfak di Papua Barat membuat rumah adat berbentuk seperti rumah panggung yang disebut dengan rumah kaki seribu. Penamaan rumah adat tersebut dikarenakan penggunaan banyak tiang penyangga dibagian bawah rumahnya, sehingga bila dilihat memiliki banyak kaki bagaikan kaki seribu.


Kaki seribu sedang berjalan dibebatuan,
(sumber foto: Utan W.)

Kaki seribu merupakan arthropoda “detritivora” yakni untuk mendapatkan sumber energi dan nutrisinya kaki seribu memakan sisa-sisa makhluk hidup, seperti tumbuhan dan hewan yang telah mati membusuk serta kotoran. Maka itu, kaki seribu berperan penting dalam ekosistem sebagai salah satu “decomposer” atau pengurai tanah dan berkontribusi dalam siklus hara. Selain memakan sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati, beberapa species kaki seribu ada pula yang memakan jamur, lumut dan sebagian kecil species lainnya pemakan hewan kecil “karnivora.” Julukan yang diberikan kepada kaki seribu ini, dilihat dari banyaknya jumlah kaki yang dimilikinya. Namun, pada nyatanya hampir kebanyakan species kaki seribu hanya memiliki jumlah kaki yang berjumlah ratusan, dimana pada setiap segmennya terdapat dua pasang kaki saja. Hampir sebagian besar species kaki seribu memiliki jumlah kaki yang kurang dari seribu kaki, namun pada tahun lalu telah ditemukan satu species kaki seribu sejati yang memiliki jumlah kaki lebih dari seribu, yakni “Eumillipes persephone.”

Species kaki seribu ini ditemukan dan di koleksi oleh para ilmuwan pertama kali di tiga lubang bor area pertambang Australia Barat, pada tahun 2020 lalu, dan hidup di dalam tanah dengan kedalaman antara 15-60 meter. Species kaki seribu ini dikelompokan kedalam famili Siphonotidae yang baru berisi satu species saja yakni “Eumillipes persephone,” yang memiliki kaki berjumlah 1.306 kaki dengan panjang tubuh hampir 10 cm, dan memiliki kepala berbentuk kerucut, antena besar serta paruh pada mulut untuk makan.

Kaki seribu memiliki perlindungan diri yang sangat unik. Dikarenakan kaki seribu berjalan lambat dan tidak memiliki organ penyengat, maka ketika merasa terganggu oleh pemangsa kaki seribu akan melakukan perlindungan diri primer, yakni dengan meringkuk atau menggulung tubuhnya seperti gelang atau bola, sehingga nampak mengeras. Namun, bila predator masih saja mengganggunya, maka kaki seribu akan mengeluarkan cairan sekresi yang berbau tidak sedap dan beracun, sebagai perlindungan diri sekunder agar tidak dimangsa. Cairan sekresi ini dikeluarkan kaki seribu melalui lubang mikroskopis yang disebut “ozoporii” (bukaan kelenjar bau atau kelenjar repugnatorial) yang terdapat di sepanjang sisi tubuh mereka. Cairan sekresi yang dihasilkan kaki seribu ini berwarna merah kecokelatan, yang mengandung zat kimia seperti alkaloid, benzokuinon, fenol, terpenoid, asam hidroklorit, dan hidrogen sianida. Beberapa zat kimia tersebut bersifat kaustik, yang mana bila terkena kulit manusia akan memberikan reaksi kemerahan, rasa gatal, terbakar, bengkak dan gejala peradangan lainnya akibat iritasi.

Dikutip dari Alodokter, dr. Nadia Nurotul Fuadah (2021) mengatakan, jika seorang manusia alergi terhadap asam hidroklorit dan hidrogen sianida atau salah satunya, maka reaksi radang yang muncul bisa jauh lebih berat, bahkan bisa sampai membuat kulit wajah bengkak, sesak, mengi, pusing, mual, muntah, jantung berdebar, ruam kulit sekujur tubuh, dan beragam gejala serius lainnya. Sedangkan bagi hewan predatornya, kontak dengan cairan sekresi ini juga bisa memicu “asfiksia” yakni sensasi seperti kehabisan napas. Radang akibat kontak dengan cairan sekresi beracun dari kaki seribu kebanyakan tidak berbahaya. Kondisi ini bisa ditangani cukup dengan langsung mencuci bagian kulit yang meradang dengan air bersih, mengalir, hangat-hangat kuku, lantas disabuni atau dioleskan pelembab (sepergi lidah buaya), diistirahatkan, dan jangan sembarangan diberi obat. Akan tetapi, jika radang di kulit tampak cukup parah, apalagi sampai menimbulkan gejala sistemik berat, lebih aman hal ini diperiksakan langsung saja ke dokter.

Beberapa ekor kaki seribu sedang memakan timun,
(sumber foto: Sutrisna)

Namun, meskipun kaki seribu akan mudah mengeluarkan cairan sekresi beracun disaat merasa terancam, kaki seribu juga dapat menjadi jinak dan tidak akan merasa terancam, sehingga tidak mengeluarkan cairan beracun tersebut. Beberapa manusia memelihara kaki seribu sebagai hewan peliharaan unik, yang ditaruh di dalam aquarium dan terkadang didalamnya disertai tanah, bebatuan, kayu dan lainnya sehingga nampak seperti habitat aslinya. Dari kaki seribu ini kita dapat kembali mengambil sebuah hikmah, bahwa dibalik bentuknya yang menjijikan dan menakutkan pada kaki seribu, mereka menyimpan peran yang sangat penting, sebagai pengurai pada kelangsungan kehidupan ekosistem di muka bumi ini. Jadi, tidak selamanya sesuatu yang berpenampilan buruk, akan hanya memberikan dampak yang buruk saja, pasti dibalik itu semua, akan ada berbagai kebaikan yang dimilikinya. (Ut)

Check Also

Duta Dunia Serangga dalam Pekan Tahun Baru MSTK TMII : Lomba Mencari Serangga

Kegiatan lomba mencari nama serangga ini merupakan program rutin Museum Serangga dan Taman Kupu TMII …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *